Pages

Subscribe:

Tuesday, July 31, 2012

Ciri-ciri anak sehat

Ciri anak sehat yang pertama adalah anak yang responsif terhadap sekitarnya. Dengan demikian Bunda akan mengetahui respon anak, apakah anak merasa lesu atau antusias terhadap apa yang Bunda bicarakan. Itu juga merupakan tanda bahwa anak Bunda adalah anak yang sehat. Kejiwaan anak ditandai dengan sifat ceria, aktif berkomunikasi, dan mau berteman. Fungsi motorik anak yang sehat bila anak bergerak aktif sesuai umur, lincah bermain sesuai umur, dan berbicara lancar sesuai umur.

Rambut tidak mudah rontok dan kusam. Ini bukan masalah rambut tipis, karena tebal atau tipis biasanya sudah bawaan. Tapi jangan abaikan rambut si kecil yang mudah rontok dan tampak kusam. Bisa jadi dia kekurangan zat gizi tertentu, seperti vitamin B komplek dan mineral seng. Sebaliknya dengan rambut mengkilap dan kuat menunjukkan bahwa si kecil cukup gizi, serta kebersihan kulit kepala dan rambutnya terjaga.

Kulit bersih, dan jika terjadi luka mudah sembuh. Kesehatan termasuk kulit memang dimulai dengan kebersihan. Dalam kondisi sehat, sel-sel kulit juga lebih cepat memperbaiki diri ketika terjadi luka.

Menurut ahli gizi Dr dr Anie Kurniawan, M.Sc, SpGK mengatakan bahwa ciri kesehatan anak yang lainya adalah postur tubuh tegap dan otot padat, nafsu makan baik dan buang air besar teratur, anak bergerak aktif dan berbicara lancar sesuai umur, dan anak sehat itu penuh perhatian dan bereaksi aktif. Ciri yang terakhir adalah pencernaan yang baik yang ditandai dengan lancarnya BAB pada anak.

Tidurnya lelap dalam waktu cukup. Anak usia di bawah 5 tahun perlu cukup tidur sekitar 10 jam sehari. Sehingga sel-sel saraf di otaknya berkembang baik. tentu saja ini akan mendukung perkembangan kecerdasannya, selain rangsangan dari lingkungan sekitarnya.

Urusan ke belakang lancar. Si kecil buang air besar secara teratur, tidak pernah sembelit dan diare. Hal ini menunjukkan kerja organ pencernaannya baik. gangguan sembelit yang berkepanjangan dapat menyebabkan berbagai gangguan di organ dalam, karena sisa makanan terlalu lama tersimpan di perut. Selain itu, mungkin juga timbul gangguan di alat pembuangan, misalnya ambien. Karena anak sering mengejan. Sedangkan diare menunjukkan ada gangguan di alat pencernaan. Sehingga penyerapan makanannya kurang baik.

Umumnya anak yang sehat, antara lain akan menunjukkan perilakunya yang aktif, ceria, memiliki selera makan yang baik, serta bisa menjalani proses bermain dan belajar dalam suasana menyenangkan.
Nah, cara yang paling mudah untuk "mendeteksi" kesehatan fisik anak adalah dengan mengamati pertumbuhannya melalui pertambahan berat dan tinggi badan, lingkar kepala, serta riwayat sakitnya. Sebagai patokannya, pertumbuhan itu harus sesuai dengan grafik pertumbuhan berat badan, tinggi badan, serta lingkar kepala yang biasanya dimuat dalam KMS (Kartu Menuju Sehat).

Inilah ciri anak sehat secara mental:

1. Memiliki tahapan perkembangan yang normal
Setiap anak harus mengalami kemajuan tahapan perkembangan. Untuk perkembangan motorik, misal, ada rentang usia kapan anak bisa merangkak, berdiri, melompat, berjalan, dan berlari. Demikian juga dengan tahapan perkembangan bicara, emosi, kognisi, sosial, dan lain-lain. Nah, anak yang sehat mampu meraih kemampuan demi kemampuan sesuai dengan tahapan perkembangan normal.

2. Bersikap positif
Artinya, anak memiliki sikap positif sesuai dengan norma-norma universal di lingkungannya. Tentu disesuaikan dengan usianya. Contoh, anak usia prasekolah (4-5 tahun) sudah pandai mengucapkan terima kasih, tolong, maaf, permisi, dan lain-lain. Sedangkan anak usia sekolah (6-12 tahun) harusnya tidak lagi mengamuk jika keinginannya tidak dikabulkan.

3. Memiliki rasa ingin tahu yang besar
Anak berani mencoba hal-hal baru, termasuk beberapa keterampilan yang belum dikuasainya. Bayi yang tadinya baru belajar merangkak, meningkatkannya dengan berdiri sambil berpegangan, lalu merambat tembok, berjalan melewati dua ubin, berjalan beberapa meter hingga akhirnya mampu berlari. Bagi anak usia sekolah, terus mendalami pelajaran yang belum dikuasainya. Mulanya belajar membaca, lalu merangkai kata, kalimat, belajar membuat karangan, puisi, dan lain-lain.

4. Ekspresif
Anak ekspresif pandai mengungkapkan perasaan emosinya. Tidak diam saat mainannya direbut, berseri-seri saat memenangi sebuah lomba, sedih kala hewan kesayangannya hilang, atau merengut jika marah. Selain bahasa nonverbal, anak juga bisa berekspresi secara verbal seperti, "Aku senang....", "Aku tidak suka....", dan lain-lain. Anak juga cukup terbuka kepada orangtua, apa pun masalah yang dialaminya. Anak yang ekspresif menandakan sehat secara emosi.

Anak juga mampu bersikap asertif, mampu memperjuangkan haknya dengan baik dan tepat tanpa mengganggu atau mengurangi hak orang lain. Anak tidak agresif saat menyelesaikan masalah, atau tidak justru pasif yang membuatnya menjadi pribadi pendendam.

5. Adaptif
Anak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Untuk anak-anak usia prasekolah, ia mampu menjalin relasi sosial yang baik dengan teman-teman lama maupun barunya. Dapat berbagi, bermain, menerima, dan lain-lain.

6. Mampu memecahkan masalah
Saat balita, anak dapat menemukan jalan bagaimana menjangkau mainan di bagian atas lemari yang tinggi, yaitu dengan menggunakan bantuan kursi atau membuka pintu lemari dan memanjat ambalan-ambalannya. Saat usia sekolah, anak juga tahu bagaimana memecahkan teka-teki, rumus matematika yang rumit, mengakali mainannya yang rusak, dan lain-lain. Kemampuan memecahkan masalah menandakan kemampuan berpikirnya baik.

7. Memiliki konsentrasi yang baik
Konsentrasi sangat penting dalam proses belajar. Gangguan konsentrasi dapat mengganggu kemampuan anak mengolah informasi. Nah, konsentrasi berkaitan dengan kemampuan anak memfokuskan perhatian pada suatu hal. Anak yang sehat memiliki konsentrasi yang baik. Jika anak mengalami gangguan konsentrasi padahal sebelumnya tidak, ada kemungkinan psikisnya tengah mengalami tekanan, entah karena trauma, kecewa, sedih, dan lain-lain.

Kemampuan anak berkonsentrasi berbeda-beda sesuai usianya. Rentang perhatian pada anak batita atau prasekolah, umumnya sering terganggu. Konsentrasi mereka jarang yang bertahan lama. Mereka kerap terganggu oleh hal-hal yang lebih menarik perhatiannya. Kemampuan konsentrasi meningkat seiring dengan pertambahan usia. Orangtua berkewajiban menstimulasi konsentrasi anak.

8. Aktif dan ceria
Anak aktif, memiliki antusiasme dalam kegiatan sehari-harinya, baik bermain, makan, tidur, sekolah, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan lain-lain. Sikap tersebut menunjukkan mental yang sehat. Lain halnya jika anak pasif dan ogah-ogahan, pasti ada masalah, mungkin fisik atau psikisnya. Kehilangan selera makan pun dapat menjadi pertanda adanya gangguan emosi selain fisik.

9. Dapat bertanggung jawab
Saat tidak sengaja mematahkan pensil milik teman, anak batita atau prasekolah dapat meminta maaf, sedangkan anak usia sekolah mengganti pensil itu seraya mengucapkan maaf. Anak juga sudah belajar mengerjakan rutinitasnya sehari-hari seperti bangun pagi lalu mandi, lantas di usia selanjutnya dapat membereskan kamar, merapikan tempat tidur, dan rutinitas lain.

10. Memiliki empati
Anak dapat memahami perasaan orang lain, bahkan saat anak beranjak besar sudah dapat memberikan bantuan. Di usia prasekolah, saat temannya kehilangan mainan, anak bersedia meminjamkan mainan miliknya, bahkan bagi anak yang sudah lebih besar, dia tidak hanya meminjamkan mainan tapi juga menghibur temannya itu. Empati merupakan salah satu tanda emosi yang sehat.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...